Tampilkan postingan dengan label Magelang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Magelang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Oktober 2014

Selamat Hari Raya Idul Adha 2014

Selamat hari raya idul adha bagi yang sudah merayakan. Bahagianya aku saat ini sudah berada di rumah saat lebaran dirayakan. Bagaimana tidak, aku bisa tidur di kamarku sendiri, bisa berkumpul bersama keluargaku secara lengkap, bahkan sholat ied bersama-sama, lalu makan bersama, bercanda bersama, ah pokoknya serba bersama. Yang seakan, aku ga membutuhkan apa-apa lagi selain kebersamaan seperti ini yang aku rindukan. Aku ga pengen kemana-mana lagi, ga pengen main kemana, ah pokoknya dirumah bersama keluarga, selain mengajak keluargaku jalan-jalan bersama untuk menikmati momen-momen yang jarang seperti ini. Terimakasih Alloh, Engkau masih memberiku kesempatan untuk sedikit membahagiakan mereka, terutama mamah dan bapak. Banyak syukur yang aku panjatkan untuk berbagai nikmat dan rejeki dari-Mu, yang selanjutnya semoga mereka juga merasa bersyukur mempunyai aku, peri kecil mereka. Peri kecil yang akan senantiasa melindungi mereka di saat usia senjanya, peri kecil yang rela berbuat apapun demi kebahagiaan mereka di sisa usianya, dan peri kecil yang tidak akan pernah menyakiti hati mereka.

Sebenarnya aku tak tak tahu mau menuliskan tentang apa. Tidak ada ide sama sekali. Random. Banyak potongan cerita dalam benakku, yah tapi cuma potongan. Yang selanjutnya aku tak tahu mau merangkainya darimana. Berawal dari memakai laptop adek untuk mainan, internetan yang ga penting, buka blog pribadiku, dan jari-jariku mulai meloncat-loncat kesana-kemari tak tentu arah. Tak tahu mau menuliskan inti cerita tentang apa, yah hanya melaju ke depan. Seperti hidupku, yang terus maju tanpa mengetahui sebenernya apa yang aku inginkan. Apa yang ingin aku capai. Apa yang ingin aku lakukan, sekedar jalan maju dengan harapan seiring aku berjalan, tujuan itu akan dengan sendirinya menghampiriku. Beda tipis dengan pasrah. Di sini aku sudah berusaha melakukan yang terbaik sesuai kodratku, menjalankan apa yang sudah menjadi takdirku, lalu selanjutnya aku kembalikan semuanya kepada-Mu. Aku lebih nyaman seperti ini, karna janji-Mu adalah nyata. Daripada aku menyibukkan diri mengejar ini-itu yang selanjutnya aku akan lupa, bahwa segalanya adalah milik-Mu, Engkau yang memiliki, tentunya Engkau yang punya hak untuk memberi.





Menulis, sekarang menjadi sesuatu yang menyenangkan bagiku. Dengan menulis, aku bisa mencurahkan semua isi dalam diriku disini, dalam bentuk tulisan seperti ini. Yang pasti akan tersimpan sampai kapanpun dan saat aku ingin membukanya lagi, membacanya, dan terseyum sendiri. Tentu beda dengan hanya sekedar bercerita dengan teman. Bercerita yang membuatku lega, tapi akan terlupa setelah beberapa menit kemudian berlalu.

Emm, sekian dulu cerita tentangku. Nanti kalau ada kesempatan disambung lagi, Mau diajak malam mingguan dulu ni, sama keluarga, hehehe. :)

Selasa, 02 September 2014

Tempat Nongkrong Yang Cozy di Hotel Plataran Borobudur Magelang

Haloo September, selamat menjemput impian.. :)

Banyak sekali berbagai macam ide tulisan di pikiranku, berbagai ide yang telah aku rasakan dan ketahui sendiri. Atau hanya berbagai cerita yang ingin aku simpan dengan rapinya dalam blog ini.


Saat lebaran pada bulan Agustus kemaren, selalu aku manfaatkan untuk bertemu dengan saudara-saudara atau teman-teman jauh. Nah, tak lupa nih setiap lebaran emang kami sempatkan untuk berkumpul bareng, siapa lagi kalau bukan bareng trio kwek-kwek yang legendaris, hehe.
 

Sore-sore mereka berkunjung ke rumahku, sekedar bersilaturahmi denganku dan keluarga. Sampai pada tiba saatnya makan malam, mereka aku ajak makan di bebek goreng stupa candi Borobudur yang lumayan familiar di daerahku. Nah, story began here. Setelah makan malam usai, bingung ni masih jam segini masak udah pulang. Oleh karenanya kita memutar otak untuk menentukan next destination kita untuk melepas malam. Kali ini kita ditemani oleh salah satu sahabat kita juga, Galantrias. Kita membutuhkan tempat yang nyaman untuk bercerita, tempat yang cozy untuk momen kebersamaan yang ga setiap saat bisa kita rasakan ini. Oke, finally kita milih tempat nongkrong yang anti mainstream di hotel Plataran Borobudur.

Seiiring berkembangan pariwisata di Borobudur, siapa sih yang gak tau Candi Borobudur? Banyak wisatawan domestik dan manca negara yang berbondong-bondong datang untuk mengunjungi tempat bersejarah yang megah ini. Tidak tanggung-tanggung, para pembisnis sangat lincah memainkan perannya. Tidak hanya pembisnis dari domestik, bahkan tidak sedikit mereka berasal dari turis asing yang ingin berinvestasi di daerah Borobudur. Salah satu investasi yang berasal dari pemikiran yang dahsyat adalah hotel Plataran ini.


Rupa-rupanya mereka sudah mengetahui dengan seksama celah bisnis yang mereka rambah. Jadi selain kemegahan, yang dicari para turis terutama dari manca negara adalah keasrian lingkungan. Rumput-rumputan yang hijau luas di halaman, pepohonan yang rindang menghiasi taman, hamparan luas sawah dan bukit jadi pemandangan keseharian yang membuat mata sangat fresh! Itulah yang menjadi konsep dari hotel ini. Hotel Plataran adalah sebuah hotel yang mengusung konsep alam di sebuah bukit. Hotel ini ada di sebuah bukit yang berada di desa Maitan, Borobudur, Magelang. Seluruh bukit ini dimiliki oleh hotel Plataran, wow asik banget kan. Jadi bangunan hotelnya gak jadi satu, melainkan terpisah-pisah mengelilingi bukit. Bangunan hotelnya pun tidak dibuat megah modern, namun elegan perpaduan antara interior semi modern dengan tradisional berbahan kayu dan ukir-ukirannya mengabadikan kesan jawa tradisional. Untuk menginap di hotelnya aku belum pernah nyoba ya, soalnya buat apa juga rumahku deket situ, hehe, selain price/night yang dibandrol di hotel ini kurang terjangkau untuk masyarakat lokal. Mungkin, bidikan pemilik hotel ini adalah turis manca negara yang sedang berkunjung ke Borobudur. Tapi sebandinglah untuk kesan dan fasilitas yang disediakan, harga perkamar/malam di hotel Plataran paling murah adalah Rp 3.500.000,00 atau sekitar $350.
 

Selain itu, di Borobudur terkenal dengan wisata sunrise nya. Udah tau dong ya banyak sekali wisata sunrise yang ditawarkan di Borobudur seperti Punthuk Setumbu, Posmati, dll (yang mungkin akan aku bagikan dalam cerita selanjutnya). Oleh karenanya, di hotel Plataran ini juga tersedia paket breakfast sambil melihat sunrise. Tempatnya ada di halaman depan restoran hotel yang terletak di bukit paling atas yang menghadap ke timur. Di sana ada teropong yang disediakan untuk melihat sun rise. Untuk breakfast ini dibandrol dengan harga/person Rp 250.000,00 atau sekitar $25.
 


Nah, untuk selanjutnya aku mau menceritakan tentang restoran hotel Plataran yang selain menyajikan maincourse menu, juga menyediakan berbagai menu ringan untuk teman bersantai. Jangan kaget ya, pertama masuk ke resto Plataran ini yang kulihat hanyalah bule-bule atau turis asing yang sedang menikmati hidangan, waktu itu sama sekali ga ada orang pribumi yang berkunjung. Tapi dengan ramah waiters menyapa dan melayani kami yang jelas-jelas wajah orang pribumi ini, hehe. Design resto Plataran ini sangat elegan perpaduan interior modern kebarat-baratan dengan cat putih, pintu kayu yang dibuat bertahap, aksen mewah dengan berbagai lampu-lampu besar menghiasi atap, dan perpaduan tradisional kursi dan meja dari kayu ukir. Tempat di luar udah hampir penuh karena memang menurutku lebih cozy menikmati suasana malam di luar, sementara yang tersisa hanya tempat di dalam yang sepi tidak ada yang menempati. Tapi untuk mendapatkan view yang perfect untuk nongkrong, kami memilih tempat di luar yang akan di tata dulu oleh waiters untuk kami berempat. Dan tara, sekitar 5 menit menunggu, tempat pun sudah siap. Tempat yang kami pilih cukup stategis walaupun tidak di depan resto, melainkan di samping. Yang kebetulan di samping resto ini adalah kolam renang yang membuat kita semakin hanyut dalam suasana penuh romantis malam itu.  Setelah kita duduk, waiters akan memasangkan kain pada kita. Oya, untuk maincourse menu dalam resto ini memakai table manner, tapi karena kita cuma ngemil-ngemil cantik maka semua itu tidak diperlukan.


Mulailah kita memilih-milih menu untuk menemani kita bersantai. Menu cemilan disini cukup standar untuk jenis coffee-shop atau tempat nonkrong. Dan lagi harga yang diberikan tiidak terlalu mahal, ya cukup mahal aja gitu mungkin, tidak semahal maincourse menu. Begitu juga untuk minumnya, kecuali kamu pesen yang berbau alkohol. Sempet terjadi percakapan absurd antaraku dan waiters. Ceritanya disana ada banyak buku menu yang diantaranya satu buku menu maincourse, satu buku menu cemilan, dua buku menu minuman. Aku melihat berbagai menu minuman yang ada, yang sekiranya nama dari minuman itu agak asing bagiku, dan menurutku cukup mahal dari segi harga. Aku membolak-balik terus menu tersebut dan hasilnya absurd dan nihil, akupun tak tau mau memesan apa. Lalu aku tertuju pada berbagai tulisan di bawah nama menu minuman tersebut, yang tidak lain adalah ingredients dari minuman itu. Dan taukah hasil dari penelusuranku kala itu (sedikit lebay, haha) aku membaca berbagai komposisi bahan yang tidak asing seperti tequila, vodka dsb dan aku tercegang. Semua minuman dalam menu berkomposisi seperti itu, otomatis semuanya berbau alkohol dong? Iyalah, karena sebagian besar pengunjung hotel ini kan turis-turis asing. Lalu dengan polosnya aku nanya ke waiters, "Mas, untuk minum yang halal disini apa aja ya?" Dengan agak tersenyum karena mungkin masnya udah ngerti aku berhijab, dia menjawab, "Untuk minum yang halal ada di menu yang satunya mbak." Hahaha, ternyata dari tadi aku salah buku menu, tuh kan oon nya ketauan. :p

Setelah beberapa saat memilih, ini menu cemilan yang menemaniku menikmati indahnya panorama malam di Plataran:


Patio Tacos      95.000
 French Fries       65.000
Tiramizu Latte        55.000
Harganya cukup standar kan? Oya, walaupun bukan tempat franchise, makan disini dikenai tax 10% dan service charge Rp 35.509,00. Dan untuk last order di resto Plataran ini adalah pukul 23.00 WIB.

Oke cukup sekian cerita asik nongkrong malamku di hotel Plataran. Ini juga keasikan foto kita disana. Foto di ambil pada malam hari, jadi tidak sempat mengabadikan keasrian dan kemegahan hotel Plataran dan sekitar.














Selasa, 11 Februari 2014

I Love Living in My Hometown

Hi February... :)

Inilah senang dan kesedihan yang membaur secara bersama. Senang karna masa depanku sudah di depan mata, tinggal bagaimana aku memanfaatkan dan menggapainya. Sedih ketika aku harus meninggalkan zona nyamanku, semua yang berharga yang aku miliki sejenak untuk masa depanku. Kota kecilku, keluarga besarku, dan semua teman-teman terbaik yang pernah aku miliki.

Kerasnya kehidupan di Ibukota harus aku taklukan, sedikit lebey memang, tapi itulah sederet kata-kata orang tentang ibukota, yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri. :D

Hari demi hari aku lewati disini, dengan rutinitas yang lumayan membosankan bagiku, pagi-pagi harus sudah siap berangkat ke kantor dan sore-sore banget baru pulang, hampir maghrib baru sampai kos dan udah tak kuasa menahan capek dengan rutinitas yang ada dari kerjaan. Hari kerja seperti biasa dari Senin-Jumat yang berlangsung sangat lama. Dan bisa beristirahat sejenak dari rutinitas hanya di hari Sabtu dan Minggu yang berlangsung begitu cepat yang biasanya ku habiskan main bersama teman-temanku, lumayan asik dan menghibur.

Hidup mandiri di kamar kosan tanpa keluarga yang mendampingi adalah sebuah hal berat untukku, jauh dari mereka merupakan hal yang sangat aku keluhkan, apalagi ditambah beban kerja yang akan menjadi tanggung jawabku ke depan. Pekerjaan baru, lingkungan baru, rekan-rekan baru yang akan banyak dari kalangan atasan yang sebagian orang tua yang harus dihormati dan banyak di patuhi. Yang dulunya dirumah semua sudah tersedia, makan tak perlu mencari sendiri, mau ini itu bisa tinggal suruh, mencuci baju, perlengkapan, bahkan kamar sudah ada yang menata. Dan sekarang semua harus ku lakukan sendiri, sendirian, mandiri, mencari uang sendiri dan membelanjakannya dengan penuh tanggung jawab sendiri, bahkan harus menabung juga dong yang banyak malah :D. But nevermind, sekiranya semua ini akan terasa mudah kalau ada keluarga di sampingku, namun, ah ya sudahlah sudah semestinya semua berjalan seperti ini. Dulu saat aku masih belajar di Universitas di Solo saja aku agak ga betah, padahal jaman kuliah tau bangetlah siang cuma kuliah beberapa jam selebihnya kumpul sama temen-temen, yang main atau entah hanya sekedar menghabiskan waku bersama, tidak ada beban, belajar aja kalau pas mau ujian aja. Tapi keluarga adalah segalanya, pulang ke rumah adalah rutinitas bagiku, jarak tempuh perjalanan +3 jam aku lewati dengan pulang setiap 2 minggu sekali di weekend, dan itu harus. Dan sekarang, Jakarta-Magelang ditempuh dalam waktu 8 jam dengan kereta, itu udah paling cepat, aku harus pulang kapan? Dengan kepadatan rutinitasku disini.. Mom, you know how bad i miss you?

Sudah lumayan aku menjalani rutinitas seperti ini, kiranya aku sudah agak bisa beradaptasi dengan semuanya, namun ternyata belum. Aku masih sering mengeluh dalam diriku sendiri. Ingin rasanya meninggalkan semua ini, tapi bagaimana? Ini juga demi masa depanku sendiri. Itulah tekad yang seringnya menguatkanku. Kalo udah begini,mau tak mau aku harus menjalaninya dengan ikhlas, berharap yang terbaik untuk semuanya. Hanya masih sering teringat dengan kesalahan-kesalahan di masa lalu yang terus menghantui, betapa dulu aku sangat menjadi orang yang tidak baik, namun toh sekarang aku sudah menyadari dan sudah berusaha menjadi lebih baik, tapi kenapa hati ini tak kunjung menjadi tenang untuk melakukan semua aktifitasku disini? Mom, i need you..

Jujur, dari dulu tak pernah terlintas untuk hidup lebih lama di kota ini, kota yang sangat penuh sesak dengan para penduduk yang kebanyakan orang rantau yang sedang mencari rejeki sepertiku. Aku memang tak begitu suka dengan kehidupan perkotaan, yang aku suka adalah kehidupan damai di desa, desa tempatku dibesarkan tentunya. Disini, aku tak bisa melihat hijau pepohonan rindang yang menghiasi jalanan, hijau bukit dan gunung yang menjadi pemandangan favoritku, hamparan sawah hijau lapang yang bisa menjadi penyegar bagi mataku. Yang ada tak lain hanya jalanan besar, gedung bertingkat pencakar langit, lalu lintas kendaraan yang memadati setiap jalan dengan berbagai polusi yang ditimbulkan, dan kesibukan orang yang berlalu lalang dengan keindividualnya mereka. Oh, hidup dimanakah aku ini? Setelah nanti berkeluarga pun aku tak punya cita-cita untuk hidup bersama suami dan anak-anakku kelak di sini, aku tidak suka. Dengan lingkungan dan pergaulannya, aku ingin hidup damai di desa, membangun impian kita bersama di sana, desa yang menjadikan impian tidak sesederhana kelihatannya seperti layaknya hidup sederhana di desa. Dari dulu yang aku cita-citakan, aku tak ingin hidup bermewah-mewah, hanya cukup saja, normally, yang lebih semoga aku mendapat rejeki yang banyak untuk bisa lebih membantu sesama orang yang lebih membutuhkan, Aamiinn ya Allah..




Aku juga sudah memutuskan untuk karirku ke depan. Sebentar lagi aku akan melaksanakan diklat di pekerjaanku, dan setelah lulus diklat insyaAllah aku akan mendapatkan penempatan kerja. Untuk mendapat penempatan kerja di Jawa sungguh kiranya sangat sulit, karna memang formasi kerja di Jawa di instansiku tidak dibuka untuk sekarang, tapi semoga saja bisa berubah menjadi ada, Aamiinn. Kalaupun memang tidak ada, aku akan lebih memilih untuk penempatan di luar Jawa daripada di Jakarta ini, semoga aku mendapat penempatan di pulau yang dekat dengan Jawa, Bali misalnya, aku pengen kerja di sana dulu sebelum bisa pindah mutasi kerja mengikuti suamiku nanti..

Semoga siapapun suamiku nanti, dia bisa menerimaku dengan apa adanya, tak mempermasalahkan pekerjaan dan penempatan dimana aku berkerja, kalau memang harus LDR dulu sebentar setelah kita menikah nanti semoga dia ikhlas dan mampu menjaga hati dan dirinya untukku istrinya seorang, Aamiinn ya Allah..

Sincerely, your beloved future wife.. :)

Sabtu, 25 Januari 2014

Dari Belajar English Sampai Belajar Kehidupan

Mau tak mau aku harus menuliskan cerita ini dari awal. Setahun yang lalu aku datang pertama kali ke tempat ini. Aku datang dengan keinginan yang luar biasa besarnya (hehe) untuk belajar bahasa inggris. Pelajaran yang aku acuhkan ketika duduk di bangku SMP dan SMA terlebih di Perguruan Tinggi yang hanya dibebani 3 SKS di 1 semester dalam 4 tahun aku menuntut ilmu. Apalagi di saat semester akhir kuliah aku harus bergulat dengan yang namanya TOEFL, ngerti aja enggak, ikut kursus malah bikin ngantuk ga ngerti-ngerti juga terlebih speaking. Bagusan dengungan semut deh daripada suara orang bule ngomong english dari kaset yang diputer itu.

Bahasa inggrisku nol besar, aku tau akan hal itu terbukti saat sempat melamar pekerjaan dan diharuskan wawancara dalam english, yah bisa dibayangkan ibarat pedagang sudah harus gulung tikar, semrawut bahkan nyaris aku seperti orang gagu yang susah ngomong.

Suatu hari aku sadar, english sangat penting untukku. Untuk karirku ke depan, untuk melanjutkan kuliah lagi mungkin, atau hanya untuk sekedar kehidupan sehari-hari (siapa tau ntar kerja dan punya suami lalu sama-sama menetap di LN, Aamiin). Mungkin kesadaranku ini sudah terlambat, sangat terlambat, tapi tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Dulu tak pernah terlintas untuk ikut kursus di lembaga bahasa inggris lain saat kuliah, padahal banyak teman yang ikutan yang ngambil jam kursus malam. Ah males, siangnya udah capek kuliah malamnya buat santai dan tidur dong ya, haha, iya aku doyan banget tidur -___- Memang benar kemalasan adalah musuh terbesar pada diri seseorang. Sebenarnya juga aku pernah mencoba untuk ikut dalam kursus bahasa inggris saat liburan panjang semester di salah satu lembaga bahasa yang cukup ternama, tapi lokasinya ada di kota Magelang. Ikut sekali duakali aku merasa malas, mungkin karna letaknya yang jauh dari rumah (padahal cuma setengah jam) kalau dipikir-pikir emang dasarnya aja males! Oke, yang lalu ga usah dibahas lagi ya. :-)

Kali ini aku bertekad buat mastering english dengan baik (haha, kejauhan!) minimal englishku bisa sedikit lebih baik, structure mungkin sukur-sukur conversation juga..

Jarak adalah sedikit halangan kemalasan bagiku, maka dari itu kebetulan ada tempat kursus baru di dekat rumah, wah bisa tanya-tanya nih kalau menyedikan paket privat yang cepet buat belajar. Kenapa aku milih privat? Aku pengen belajar english setiap hari sesuai apa yang aku inginkan, jadi terus-menerus belajar agar tidak putus hari dan lupa begitu saja. Akan tetapi apa mau dikata, bukan semua itu yang ku dapat malah penjaga ditempat kursus itu bilang kalau mau kursus harus nunggu murid lain dan guru juga, hah, tempat kursus macam apa ini, sudahlah. Tapi si penjaga merekomendasikanku untuk belajar ke Desa Bahasa Ngargogondo, katanya disana lebih ditekankan pada conversation. Letaknya memang di Desa Ngargogondo, sebuah desa yang lumayan desa di Kecamatan tempat tinggalku. �Desa Ngargogodo dimana itu mbak?� Karna sungguh, mungkin aku pernah mendengar nama desa tersebut tapi jauh dari ingatanku aku belum mengenal dan pernah mengunjunginya. Si mbak menjawab dengan arahan petunjuk jalan dan terakhir bilang �Deket kok mbak dari sini sekitar 15 menit.� Wah kalau cuma 15 menitan deket juga kok aku ga pernah tau, apa dasarnya aku emang kuper? HAHAHA yayaya.

Keesokan harinya sekitar pukul 09.00 WIB aku memulai pencarianku tentang desa yang dimaksud. Ssebelum sampai di Desa Bahasa tersebut, aku sempat bertanya terhadap warga sekitar memastikan aku tidak salah jalan. Dan taraaaa, akhirnya aku pun sampai, welcome to Desa Bahasa Ngargogondo. Loh kok sepi amat ya? Halloo permisi, berkali aku mengucap sapa yang tak kunjung dibalas dari dalam rumah. Sampai akhirnya ada ibu-ibu paruh baya yang menjawab dan bertanya maksud kedatanganku kesana. Setelah aku menjelaskan, si ibu memanggil salah satu staf Desa Bahasa untuk menemuiku. Inilah kali pertama aku bertemu dengan mereka, Mr Tri dan Mr Miftah aku memanggilnya, mereka adalah staf sekaligus pengajar di Desa Bahasa. 

Setelah berbincang-bincang barang sebentar, mereka menginformasikanku berbagai program belajar di Desa Bahasa, ada program reguler dan eduwisata. Tentu untukku yang ingin belajar instens  harus menempuh program reguler dengan jenjang level. Berikut jenjang level reguler beserta harga:

  • Level 1: Daily Vocabularies     Rp 250.000,00
  • Level 2: Tenses                       Rp 1.000.000,00
  • Level 3: Telling Story               Rp 1.250.000,00
  • Level 4: Toefl                           Rp 1.250.000,00

Dan untuk setiap level dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp 150.000,00 yang mendapatkan buku modul. Masing-masing level tersebut berdurasi 20 hari dalam sebulan. Masuk Senin-Jumat pukul 14.00-17.00 WIB. Sedangkan untuk program eduwisata dikhususkan untuk mereka yang ingin belajar bahasa inggris sambil berwisata di daerah wisata sekitar Borobudur. Jadi pelajarannya sambil jalan-jalan. Program eduwisata ini berdurasi 6 hari dengan harga Rp 1.500.000,00.

Mereka sangat ramah, tapi aku masih memahami Desa Bahasa Ngargogondo tersebut masih dibilang sepi dan belum maju seperti sekarang saat kali pertama aku datang. Mereka menyarankanku untuk ikut dalam kelas reguler level 1 yang sudah dimulai satu minggu yang lalu. Intinya kalau aku mau ikut level ini udah telat satu mingguan, tapi kalau mau ikut level 1 angkatan berikutnya aku harus nunggu paling cepet 1 bulan lagi, hmm, yaudah aku putuskan untuk ikut dalam level 1 angkatan ini dan mengejar ketinggalanku. Setelah selesai registrasi, Mr Tri memberitahuku untuk mulai belajar nanti siang pukul. Masih pikiran malas melanda dalam diriku, lalu aku menjawab �kalau belajarnya mulai besuk gapapa ya Mr?� ZZZZZZZZZZZ.

Sesampainya dirumah aku memberitahukan pada mamahku tentang hasil investigasiku ke Desa Bahasa tadi dengan detail tempat, hari dan jam belajar, rincian biaya, serta aku bilang kalau mau mulai besuk aja belajarnya. Sontak mamahku tidak menyetujuinya karna aku udah telat seminggu masak mau ditambah dengan malas-malasan lagi, haha, okeh2 nanti siang aku berangkat belajar mah -___-

Pastinya disana aku mendapatkan banyak teman-teman baru dari berbagai latar berlakang, dari yang sudah bekerja sampai anak-anak SMA bahkan SMP atau yang masih mencari jati diri sepertiku. Selain teman-teman yang begitu baik, staf-stafnya juga sangat friendly banget, udah betah lah sama keadaan disini, semoga bisa belajar dengan lancar. Fyi aja aku disini ga belajar sampai selesai karna berbagai alasan, yang seharusnya kelas reguler ada 4 level yang akan menghabiskan waktu sekitar 5 bulanan, aku cuma mengambil sampai level 2 dengan durasi waktu 4 bulanan karna untuk level 2 aku ikut mengulang lagi untuk memperdalam ilmuku disini, haha. Untuk level berikutnya aku tidak ikut karna kesibukan dan ada sedikit pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Jadi ya untuk 4 bulan belajar aku rasa kurang maksimal untuk skill englishku, tapi dengan tekad yang kuat untuk belajar dan kali ini aku bener-bener belajar dengan baik, semua itu tak pernah sia-sia, minimal englishku sekarang udah lebih baik dari dulu, hehe, much thanks to Desa Bahasa.

Ini dia tempat yang sempat beberapa bulan menjadi tempatku belajar. Gambar ini aku ambil bulan Januari 2014. Bangunannya hampir sebagian besar kena renovasi menjadi lebih bagus, ya dulu pas aku datang kesini untuk belajar belum sebagus kayak gini, hehehe. Bangunan baru Desa Bahasa ini memang dibuat bangunan jawa banget dengan arsitektur jawa kuno seperti rumah joglo, batu bata yang tak dihaluskan menjadi kesan tradisional, atap-atapan rumah menggunakan daun-daun kering, pagar menggunakan anyaman bambu, dsb. Cekidot ni penampakannya:







Tapi ternyata pembelajaran terbesar yang aku dapatkan disana bukan cuma pelajaran dunia yaitu bahasa inggris, namun lebih dari itu karna memang aku sedang dalam masa pencarian jati diri. Aku dapat melihat dari sisi lain yang lebih penting yaitu pelajaran tentang kehidupan yang sebenarnya. Ada seseorang yang aku kenal, ada keluarga yang sangat ramah dan sederhana yang dekat denganku disana yang memperlihatkan padaku arti hidup yang sebenarnya. Mereka secara tidak langsung telah mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan. Kejadian demi kejadian mulai silih berganti terjadi, itulah pembelajaranku. Pelajaran yang baik dan menyenangkan aku nikmati dan pelajaran buruk mau tak mau aku ambil hikmahnya. Sekarang yang pasti aku tau semua itu adalah yang terbaik untukku.

Aku yang dulu masih angkuh, memandang remeh hidup, cuek dengan orang lain dan sekitar, disini aku bisa melihat sisi lain dalam kehidupan. Melalui desa ini hidupku mulai tertata lebih baik, aku mengenal orang-orang yang sangat sederhana tapi mereka selalu tersenyum dengan ikhlas mengarungi hidup yang keras ini, dan aku? Masih sering mengeluh dan menyia-nyiakan segala yang sudah aku punya yang bisa jadi hal itu belum dipunyai orang lain tapi masih saja hidupku penuh dengan keluhan-keluhan yang tak berarti. Tak pernah aku mengerti arti sebuah peribahasa jawa �hidup itu sawang-sinawang� bodohnya dan angkuhnya aku, itulah kesalahan terbesarku dalam hidup.


Jika dengan sederhana kita bisa bahagia untuk apa hidup bermewah-mewah..

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbFuxEEGmRfUOy5ksVI5q5ea-jDYeEcDuTzLHNpaK-B-EPggLHAtDIOSKHQurEU5xyFbUC6g4SNFb7vjuT2VKEksLIBUjUGRIP4V4UDPD2ySEms-evrBqmiUQTZQUSdEPJuu2LBw0Ons3I/s1600/lilin.jpg
Itulah kurang lebih yang bisa aku baca dari keadaan di sana. Aku merasa dari sini arah hidupku mulai berubah. Memang aku sering murung dalam kesendirian memikirkan mau bagaimana hidupku ke depan. Melihat dan menghabiskan waktu dengan orang-orang yang sederhana tak membuat semata-mata menjadikan cita-citaku sesederhana mereka. Bahkan tekadku aku harus bisa berguna bagi orang lainnya, itulah kebahagiaan hidup yang sebenarnya, iya, dan aku harus bisa! Aku mulai menengok dan mendedikasikan waktuku untuk keluarga. Beruntungnya aku mempunyai bapak dan mamah yang sangat menyayangiku memberikan segala yang aku butuhkan, adik yang penurut, dengan siapa lagi aku hidup menghabiskan waktu selama 24 tahun ini, dan apa timbal balik yang sudah aku berikan untuk kasih sayang mereka? Yah tidak banyak, sungguh tragis dan ironis. Aku yang dulu hanya memikirkan kesenanganku saja, hidup tanpa beban karna semua yang aku inginkan sebagian besar sudah ada di depan mataku. Tapi aku harus bersyukur, Allah tidak pernah terburu-buru dan terlambat dalam memberikan setiap yang terbaik untuk umatnya, inilah waktu yang tepat untukku menyadari semuanya dan lebih berguna terlebih untuk keluargaku sendiri.
God is never late and in hurry giving every moment to His creatures.
Dalam setahun terakhir banyak sekali kejadian-kejadian luar biasa yang terjadi dalam hidupku. Menangis, murung, trenyuh, senyum kecil yang ada dalam bibirku. Aku memang tak seceria dulu yang hanya suka tertawa hiha hihi bersama teman-temanku, menghabiskan waktu yang sia-sia hanya untuk sekedar nongkrong atau jalan-jalan tak penting. Sekarang aku lebih dewasa dan tak banyak tertawa (hehe, mungkin maksudnya tertawa tak tau tempat) aku ingin menjadi orang yang ramah, ringan senyum tapi tetap punya wibawa dan kharisma yang luar biasa, aamiinn. Padahal dulu sewaktu masuk kuliah banyak teman-teman yang belum mengenalku bilang aku jutek karna aku jarang senyum, tapi kalau udah kenal duh jadinya ketawa ketiwi haha hihi mulu malu-maluin. Sekarang ga lagi, aku sudah dewasa secara usia maka aku juga harus dewasa dalam menjalani hidup. Aku yang childish ah singkirkan, aku yang manja ah lupakan, aku yang tak bisa mandiri inilah saatnya aku berdiri di atas kakiku sendiri tanpa topangan dari siapapun.. 

Dari belajar english sampai belajar kehidupan, sungguh suatu perjalanan yang sangat bermakna yang membawa perubahan dalam setiap nafasku. Aku yang dulu masih semena-mena dan semauku sendiri menganggap semua tak penting perlahan mencair, ibadahku pun alhamdulillah berangsur membaik, aku lebih mendekatkan diri pada Allah, aku lebih sering bercakap dengan-Nya dalam doaku, sholat 5 waktu tak bolong, membaca Al-Qur�an juga rutin yang dulu hanya satu atau dua halaman sekarang sudah kuat berlembar-lembar bahkan satu jus sekali baca. Alhamdulillah semoga perubahan baikku ini terus berlanjut, Aamiin.

Bukan cuma pelajaran hidup juga yang banyak aku petik disini, lagi tentang alam. Disini tempatnya memang desa banget yang jauh dari kemewahan dan tata kota, ya walaupun aku juga berasal dari desa namun aku tak pernah melihat lebih dalam tentang semua ini. Aku memang senang dengan alam, namun tak pernah sekalipun aku mengeksplor lebih dalam untuk mengenalnya. Dari sini aku lebih sering bermain atau menghabiskan waktu ditempat-tempat sunyi yang berbau dengan alam, pendopo menoreh, punthuk setumbu, hutan pinus, atau hanya sekedar berjalan-jalan di desa. Di sana aku menemukan kedamaian yang tak pernah kurasa saat aku ada di depan jalan raya besar melihat mobil motor dan kendaraan lain yang berlalu lalang, subhanalloh sungguh agung dan indah kreasi Sang Pencipta. Sekeliling pepohonan hijau, udara yang segar, tempat yang teduh, tempat yang tinggi yang dari sana aku bisa melihat hamparan pesona tempat lain yang berada di bawah dan dapat memandang luas tanpa batas ke segala penjuru mata angin. 

Dari penduduknya pun sudah membuatku nyaman. Orang desa yang polos, sederhana, tergurat keikhlasan dan kebahagiaan di wajah mereka meski hidup hanya ala kadarnya, perekonomian yang belum berpihak sepenuhnya pada mereka, namun keikhlasan yang membuat semua terasa mudah dan bahagia. Keramahan yang tercermin dari penduduk desa yang tak akan pernah aku jumpai di keramaian kota. Belum kenal pun kalau ada orang yang lewat pasti disapa, disuruh mampir kerumah, lah gimana jadinya kalau permintaan mereka semua aku kabulin, jadi aku mampir di setiap rumah mereka satu per satu, HAHAHA, fenomena ini ada dan nyata di desa deket hutan pinus daerah Ketep.

Aku menikmati perjalanan hidupku ini, perjalanan yang kadang sangat membuatku bahagia, tak luput sedih dan menangis, atau hanya sekedar bisa mengucap syukur atas kuasa-Mu..

Satu per satu ya..

Maksudnya sekarang hidupku sudah lebih tertata, aku juga harus memikirkan masa depanku sendiri. Sebenarnya tidak ada yang menuntut aku untuk bekerja di perusahaan lain, orang tuaku sekalipun karna mereka sudah punya usaha/bisnis sendiri yang sewaktu dirumah aku cukup membantu mereka dalam menjalankan bisnis tersebut. Bahkan sudah akan membuat cabang baru untuk kuurus sendiri, namun kalau belum bisa mandiri dalam artian bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain aku belum cukup berguna, pikirku dulu. Bahkan banyak teman yang bilang �buat apa kerja, selama ikut orang itu ga enak, enakan punya usaha sendiri aku pun pengen banget punya usaha.� yaiya sih dulu jauh sebelum sekarang aku juga sempat beberapa bulan bekerja ya rasanya gitu lah pasti ada enak dan enggaknya, dan beberapa bulan yang lalu juga sempat coba bekerja tapi ga betah karna kerjaannya hehe.

Iya, ridho Allah itu ada pada ridho orang tua. Untuk medapatkan pekerjaan yang baik aku sudah mencoba untuk melamar pada perusahaan-perusahaan besar seperti beberapa perusahaan BUMN, namun selalu gagal pada tahap-tahap akhir. Sempat aku mikir apa karna orang tuaku kurang meridhoi aku bekerja disitu, tapi perasaan orang tuaku juga suka-suka aja kalau aku bisa mandiri bekerja. Tapi memang orang tuaku dulu sempat bilang lebih suka kalau aku bekerja di pemerintahan menjadi PNS, kalau enggak mending buat usaha sendiri aja jangan kerja di perusahaan swasta. Bukan memandang remeh perusahan swasta, tapi ini cuma passion dan keinginan orang tua. Apakah semua itu merupakan sebuah clue?

Oke akhir tahun 2013 ada pendaftaran CPNS. Aku pun ikut mengadu nasib disana, aku melamar di beberapa instansi pemerintah untuk cadangan. Antara keyakinan, keinginan, doa, dan lara hatiku saat itu. Proses demi proses aku nikmati, saat sakit pun aku ikut tes, tidak berharap lebih hanya yang terbaik untuk semuanya. Waktu demi waktu aku lewati, sangat sibuk untuk persiapan terbaik untuk hal yang terbaik. Ya inilah saatnya perjuangan dan doaku tak sia-sia, semoga inilah jalan yang terbaik untukku. Aku lolos menjadi CPNS di salah satu instansi pemerintah, puji syukur aku panjatkan kehadirat-Mu ya Allah, berilah kemudahan dan kelancaran untuk jalanku ke depan, semoga barokah, aamiinn ya Allah. 

Inilah pembelajaran terbesar dalam hidupku yang sungguh baru aku nikmati dan sadari akan kuasa-Mu. Satu demi satu pelajaran dalam hidup Kau beri untukku, tidak kurang tidak lebih, runtut tak terselingi, semoga aku senantiasa menjadi orang yang lebih baik, aamiinn ya Rabbal�alamin..

Minggu, 08 Desember 2013

Sebuah Mimpi Tentang Istana Pinus

Beberapa waktu lalu, ah sudah lama sekali kurasa aku pernah mengunjungi tempat ini. Sangat sederhana, sebuah hutan yang sangat rindang dihuni oleh batang-batang pinus yang menjulang tinggi ke langit, seakan mengisyaratkan bahwa mimpi ini juga tak boleh sirna dan harus terus meninggi tak terpatahkan..

Aku memang senang bersahabat dengan alam, dengan alam aku menyatu, menikmati dan lebih mengenal betapa agung kuasa Sang Pencipta. Aku suka pergi ke mall, menghabiskan waktu untuk nonton di bioskop, tapi bisa kubedakan apa yang telah aku dapat dari petualanganku ini..

Sebenernya hal yang paling aku suka adalah pergi ke pantai, tapi aku sedang tidak membahasnya disini, sekarang aku akan bercerita tentang Sebuah Mimpi Tentang Istana Pinus. 


Hutan pinus ini terletak di sebuah desa yang aku sendiri ga tau namanya, yang jelas hutan pinus ini ada di sekitar Ketep, Magelang. Untuk sampai di sini, harus masuk jalan gang kecil dan jalan yang berkelok-kelok dengan kanan atau kira lereng dan jurang.

Sangat sederhana terdengar. Hutan pinus. Ya, hutan pinus, ah apa yang bisa didapat di sana? Tidak ada apa-apa, hanya ada pohon-pohon pinus saja. Ya memang seperti itu, namanya saja hutan pinus, hehehehe.. kembali lagi, aku suka dengan alam, jadi untukku hanya hutan pinus saja bisa menarik perhatianku untuk lebih dekat mengenal dan berlama-lama disana, menikmati udara yang masih fresh jauh dari polusi udara berbagai kendaraan lalu lalang, kesejukan dibawah dedaunan yang rindang, rumput-rumput basah yang menjadi alas duduk, hamparan lereng sawah yang menjadi pemandangan sekitar, sungguh hanya kedamaian yang dapat kurasa..

Suatu hari nanti aku pengen punya rumah di sini, sebuah istana kecil yang penuh kedamaian untuk kita huni. Jadi nanti kalo kita lagi penat kerja, saat liburan atau weekend kita bisa pulang kesini untuk merasakan kesejukan dan kedamaian alam yang tidak bisa kita dapat di kota.

Dan kata-kata itu mengisyaratkan sebuah mimpi untuk menjadikannya nyata, ya aku serius ingin punya rumah kecil disana.

Tapi, sebuah mimpi hanyalah tinggal mimpi, sampai saat aku tidak pernah lagi kesana, dan tidak pernah tau kapan bisa kesana lagi atau malah tidak sama sekali..