Selasa, 08 April 2014

Syukur dan Rindu

Halloo April, bulan yang begitu indah dirasa dalam kehidupan baruku. Bulan yang udah agak selo, ga semrawut dipenuhi dengan segala kegiatan yang menyita waktu, syukur masih bisa menikmati waktu-waktu sibuk di hidupku..

Entah kenapa sekarang aku lebih suka dan dekat dengan kata syukur. Syukur dalam keadaan apapun, mungkin aku sudah lebih belajar dari banyak pengalaman masa lalu yang menguatkanku. Apapun itu, di saat sedang murung, sedih, atau sendiri terlebih merasa senang, syukur selalu dekat denganku, semoga selamanya bisa seperti ini. Dengan syukur kita bisa lebih bahagia, dan menurutku syukur adalah kunci dari segala-galanya. Obat dari segala kekecewaan sesaat kita, karna mungkin saat ini kita belum menyadari kalau hal yang sudah terjadi itu adalah yang terbaik untuk kita, untuk suatu hari nanti. Syukur masih bisa diberi waktu untuk belajar walaupun ngantuk-ngantuk, hehe, seperti yang sedang aku alami di diklatku kali ini. Percaya deh, tidak ada satupun kejadian yang tidak ada positifnya untuk diri kita, dan pastinya itu adalah yang terbaik, so kenapa sih ga milih untuk lebih memandang segalanya dari sisi positif dan lebih banyak bersyukur dari mengeluh? Ada yang berpendapat, kalau kita membiasakan berpositive thingking, otak akan menangkap kejadian-kejadian yang positif terus, dan mengakibatkan kerja otak yang membaik dan hanya pikiran-pikiran ceria dan bahagia yang ada, kata pendapat siapa sih itu, ya cuma aku, hehe. Dalam artian kalo kita santai dan ga sering ngeluh, otak akan awet muda, seperti orangnya tentunya. Life is so simple, ga perlu memaksakan terhadap suatu hal, apalagi sampai gontok-gontokkan untuk suatu masalah yang dalam beberapa detik kemudian akan berlalu, buang-buang pikiran, energi, dan yang ada hanya dapat malu. So, cukup jalani apa yang ada, dan tidak usah mengada-ngada. Dan taukah, percaya ga percaya ni, jika kita terus bersyukur, nikmat dan karunia-Nya akan terus bertambah, aamiinnn.

Sebaliknya, mengeluh adalah hal yang akan mendekatkan kita pada jurang keterpurukan. Kenapa? Setiap kita mengeluh, setiap itu juga hati kita menjadi kotor dan selalu berburuk sangka dengan Sang Pencipta. Padahal, apa sih yang tidak Tuhan beri jika kita sungguh-sungguh meminta dengan rendah hati dan berusaha maksimal? Malah kesianlah sama orang yang sering ngeluh. Ingatlah apa yang kamu rasakan saat ini mungkin belum ada apa-apanya untuk orang lain yang masih di bawah kamu, jangan ngeliat ke atas terus, kayak pepatah rumput tetangga emang lebih hijau, tapi apa pernah tau kalau di dalemnya banyak ulat? Nah! Dan lagi, orang lain yang kita lihat lebih bahagia dari kita, belum tentu dia sebahagia keliatannya, mungkin karna dia emang ga pernah mengeluhkan hidupnya dan pandai menyembunyikan kesedihannya. Masih sering mengeluhkah kamu?

Dan lalu rindu..

Seperti saat ini, aku sedang merasakan kerinduan yang teramat sangat. Padahal, tidak jelas aku sedang rindu pada apa, atau siapa. Di kelas matrikulasi, ngantuk melanda, tapi aku masih bisa senyum-senyum sendiri, untung widyaiswaranya ga tau, kalo sampai tau bisa dibully lagi sama seiisi kelas.

Aku teringat dengan banyak hal di masa lalu. Oh jadi aku sedang rindu dengan masa lalu ya? Wajarlah. Waktu berjalan cepet banget ya, banyak kejadian yang aku lalui di masa lalu. Teman-teman, keluarga, mantan pacar *eh* yang pasti semua itu adalah orang-orang penting dalam perjalanan hidupku. Kenangan manis yang takkan pernah terlupa, kenangan buruk yang membuatku kini menjadi lebih baik, segalanya you know i�m missing them so much, really i have to realize it. Aku rindu!

Masa lalu yang hanya tinggal masa lalu. Yang dulu masih belum aku syukuri keberadaannya, yang mungkin masih aku sia-siakan, terlalu sibuk dengan hal lain yang kurang penting, dan sekarang aku merindukan masa-masa itu. Sedih, itulah gambaran ketika aku tersadar. Banyak kisah dan kesalahan yang telah aku perbuat di masa lalu, banyak hal yang telah aku sia-siakan, kasih sayang banyak orang, yang dulu aku terlalu angkuh dan egois untuk membalasnya dengan kasih sayang yang baik pula, dan setelah semuanya berlalu, aku merindunya.

Taukah aku begitu merindumu?

Kasih sayang orang baru belum begitu mengganti, dan lagi-lagi aku merasa sedih. Apakah hal yang sama harus terulang? Aku juga takut. Tidak menghargai kasih sayang yang ada, apalagi membalasnya, dan ketika tersadar semua itu sudah tiada.

Sekian sedikit celoteh dari saya, yang mungkin dirasa ga penting untuk diri anda, tapi penting untuk diri saya pribadi, dan suka-suka sayalah mau nulis apa aja :p hehehe masih selalu belajar untuk lebih bersyukur, ingatkanku kalau lagi lalai dan masih mengeluh. Keep smile :) 

Senin, 07 April 2014

Hadits Tentang Niat



 ?????? ?????

?? ???? ???????? ??? ??? ??? ?? ?????? ??? ???? ??? ??? ???? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ???? " ???? ??????? ??????? , ????? ??? ???? ?? ??? , ??? ???? ????? ??? ???? ?????? ?????? ??? ???? ?????? , ??? ???? ????? ??? ???? ?????? ? ????? ?????? ?????? ??? ?? ???? ???? " ???? ????
Dari Amirul Mu�minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu�anhu) dia berkata: �Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu�alaihi wassalam bersabda: �Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).�� (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits)
Kedudukan Hadits
Materi hadits pertama ini merupakan pokok agama. Imam Ahmad rahimahullah berkata: �Ada Tiga hadits yang merupakan poros agama, yaitu hadits �mar, hadits A�syah, dan hadits Nu�man bin Basyir.� Perkataan Imam Ahmad rahimahullah tersebut dapat dijelaskan bahwa perbuatan seorang mukallaf bertumpu pada melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Inilah halal dan haram. Dan diantara halal dan haram tersebut ada yang mustabihat (hadits Nu�man bin Basyir). Untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan dibutuhkan niat yang benar (hadits �mar), dan harus sesuai dengan tuntunan syari�t (hadits A�syah).
Setiap Amal Tergantung Niatnya
Diterima atau tidaknya dan sah atau tidaknya suatu amal tergantung pada niatnya. Demikian juga setiap orang berhak mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya dalam beramal. Dan yang dimaksud dengan amal disini adalah semua yang berasal dari seorang hamba baik berupa perkataan, perbuatan maupun keyakinan hati.
Fungsi Niat
Niat memiliki 2 fungsi:
1. Jika niat berkaitan dengan sasaran suatu amal (ma�bud), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara amal ibadah dengan amal kebiasaan.
2. Jika niat berkaitan dengan amal itu sendiri (ibadah), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara satu amal ibadah dengan amal ibadah yang lainnya.
Pengaruh Niat yang Salah Terhadap Amal Ibadah
Jika para ulama berbicara tentang niat, maka mencakup 2 hal:
1. Niat sebagai syarat sahnya ibadah, yaitu istilah niat yang dipakai oleh fuqoha�.
2. Niat sebagai syarat diterimanya ibadah, dengan istilah lain: Ikhlas.
Niat pada pengertian yang ke-2 ini, jika niat tersebut salah (tidak Ikhlas) maka akan berpengaruh terhadap diterimanya suatu amal, dengan perincian sebagai berikut:
a. Jika niatnya salah sejak awal, maka ibadah tersebut batal.
b. Jika kesalahan niat terjadi di tengah-tengah amal, maka ada 2 keadaan:
- Jika ia menghapus niat yang awal maka seluruh amalnya batal.
- Jika ia memperbagus amalnya dengan tidak menghapus niat yang awal, maka amal tambahannya batal.
c. Senang untuk dipuji setelah amal selesai, maka tidak membatalkan amal.
Beribadah dengan Tujuan Dunia
Pada dasarnya amal ibadah hanya diniatkan untuk meraih kenikmatan akhirat. Namun terkadang diperbolehkan beramal dengan niat untuk tujuan dunia disamping berniat untuk tujuan akhirat, dengan syarat apabila syari�t menyebutkan adanya pahala dunia bagi amalan tersebut. Amal yang tidak tercampur niat untuk mendapatkan dunia memiliki pahala yang lebih sempurna dibandingkan dengan amal yang disertai niat duniawi.
Hijrah
Makna hijrah secara syari�t adalah meninggalkan sesuatu demi Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah artinya mencari sesuatu yang ada disisi-Nya, dan demi Rasul-Nya artinya ittiba� dan senang terhadap tuntunan Rasul-Nya.
Bentuk-bentuk Hijrah:
1. Meninggalkan negeri syirik menuju negeri tauhid.
2. meninggalkan negeri bid�h menuju negeri sunnah.
3. Meninggalkan negeri penuh maksiat menuju negeri yang sedikit kemaksiatan.
Ketiga bentuk hijrah tersebut adalah pengaruh dari makna hijrah.
Wallahu�alam.

Minggu, 30 Maret 2014

Masih Bisa Bernafaskah Aku Besok Pagi



 Hari : Ahad, 30 Maret 2014 M.                                      

                                      Masih Bisa Bernafaskah Aku Besok Pagi
                                               #Oleh : Abu Samah Al-Hafidz


Bismillahirrahmaanirrahiim...
Assalamu�alaikum Warahmatullahi Wabarkaatuh...
Wahai saudaraku dan saudariku...
Ingatlah wahai saudariku dan saudariku bahwasanya kita hidup di dunia ini hanyalah kesenangan sementara dan kehidupan akhiratlah yang kekal....
Setiapa manusia akan merasakan mati, mungkin selama kita di dunia tidak pernah sadar untuk memikirkan akan kehidupan akhirat, hanya bisa memikirkan kehidupan dunia, mencari uang yang banyak, membangun rumah semegah mungkin dan lain sebagainya...
Wahai saudaraku dan saudariku...! 
Manusia akan melewati tahapan demi tahapan dalam perjalanannya menuju allah swt. Dari dalam ruh ke alam rahim hingga kemudian tanpa disadari kita semua akan mati kemudian berpindah ke alam barzah sampai manusia melangsungkan perjalanannya menuju allah swt.
Kematian ialah akhir dari kehidupan dunia, ia tamu tak diundang, tak ada seorangpun yang sanggup menghalanginya, dan ia adalah perintah allah swt yang selalu taat setiap saat. Itulah malaikat maut yang ditugaskan untuk mencabut nyawa manusia.
Allah swt berfirman: �Katalah : malaikat maut yang disuruh iuntuk mencabut nyawa mu akan memetikanmu, kemudian kepada rabbumu, kamu akan dikembalikan�. (As-sajadah :11).
Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari syaddad bin Aus radhiyaullahuanhu, ia berkata: kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan di akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang di bangkitkan dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak akan nyenyak dalam tidurnya.� (Al-Maut hlm. 69).
Sesungguhnya kematian itu sebuah ketentuan yang pasti, hakikat yang menakutkan, perkara yang tak terduga kedatangannya. Ia akan menjemput semua orang hidup, ia tak pandang bulu, mulai dari anak-anak sampai dewasa, pria maupun wanita, miskin maupun kaya.
            Allah Swt. Berfiman: setiap yang berjiwa pasti merasakan mati. (Al- Anbiya:35).
        Allah Swt. Berfiman juga : dan kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum engkau (Muhammad), maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal�.? (An-nisa:35).
            Semuanya tak dapat mengelak, menghindar, dan bersembunyi darinya walaupun berada dalam bangunan yang kuat dan kokoh.
  Allah Swt. Berfirman: dimanapun kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, meskipun kamu berada dalam benteng yang tinggi dan kokoh. (An-nisa:78).
        Allah Swt. Berfriman: katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu.(Al-jumuah:8).
Wahai saudaraku dan saudariku...!
Keinginan manusia sungguh tak tebatas sejauh mata memandang dan seindah fikiran menghayal. Jika demikian, sementara sudah dapat dipastikan bahwa kita tidak tau kapan kematian itu akan datang, maka seharusnya kita semua segera bertaubat dan senantiasa mengingat-Nyasupaya kita dapat mempersiapkan bekal, sebagaimana Rasulullah Saw. Menganjurkan hal tersebut: �perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan: yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atas orang itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di wakti luas (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang itu.� (HR. Ath-Thobaroni dan Al-Hakim, Shahih Al-jamiush Shaqhir: no.1222, Shahih At-targhib, no. 3333).
Wahai saudaraku dan saudariku...!!! Kita mengira masih ada waktu besok dan besok, sedang yang kita punya mungkin lebih pendek dari itu. Wallahu�alam.

Kamis, 27 Maret 2014

Adab Berbicara

ADAB BERBICARA
     #Oleh: Abu Samah Al Hafidz

            Berbicara adalah hal yang sangat manusiawi atau fitrah insaniyah. Sebagai ajaran yang syamil dan mutakamil (komprehensif dan utuh), Islam juga sangat memperhatikan dengan lisan sehingga memberikan arahan yang termaktub dalam adaabul hadits (adab berbicara).
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa lisan dapat membawa atau menyebabkan seseorang masuk surga atau neraka. Dan di hadits lainnya diingatkan bahwa setiap anak cucu Adam akan diminta pertanggung jawaban atas perkataan-perkataannya, baik yang sengaja maupun tidak

Manfaat adab dalam berbicara

1. Bisa menikmati kondisi diam sebagaimana Rasulullah SAW mencontohkan kepada umatnya, karena segala perkataan Rasul adalah bernilai dzikir dalam pengertian yang luas. Bila beliau berbicara, maka bicaranya dzikir dan bila beliau diam, diamnya adalah dalam rangka berfikir.

2. Rasulullah SAW bersabda: �Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau (lebih baik) diam�.
(HR. Bukhari Dan Muslim)

3. Bila kita biasa mematuhi adab berbicara, maka kita akan memiliki kemampuan menasehati secara baik. Karena jika terlalu mengumbar lisan, perkataan dan nasehat kita membekas atau memberi kesan mendalam terhadap orang yang kita nasehati, hendaknya kita senantiasa menjaga shalat lail, shaum sunnah, tadarrus Al-Qur�an dan shalat sunnah rawatib.

4. Terhindar dari menjadi ulama yang su� (ulama yang buruk). Penampilan ulama su� ini terkesan alim, islami namun ternyata di dalamnya busuk, sesat dan menyesatkan. dalam QS. Ash-Shaff ayat 2-3, Allah mengingatkan dan mengancam orang-orang yang tidak memiliki kesesuaian antara kata dan perbuatan

Agar bisa meraih manfaat tersebut, seorang Muslim harus mematuhi adab-adab berbicara, yakni :

1. Wadih. Bila kita berbicara hendaknya kata-kata kita wadih alias jelas, tegas, lugas dan mudah dicerna atau difahami. Hadits dari Aisyah r.a: �Adalah kata-kata Rasulullah, kata-kata yang jelas dan mudah difahami oleh orang yang mendengar di sekitarnya�. Apalagi tujuan komunikasi yang utama adalah memberikan pengertian atau kefahaman kepada orang yang diajak berkomunikasi Rasulullah SAW selalu mencontohkan bagaimana berbicara dengan wadih, sampai-sampai sahabat-sahabat bisa menghitung kata-kata yang disampaikan beliau.

2. Sederhana dan tidak difasih-fasihkan. Hendaknya seorang Muslim berbicara dengan bahasa yang sederhana, wajar tidak dilebih-lebihkan atau sok fasih. Se
layaknyalah kita melihat siapa orang yang kita ajak bicara apakah seorang yang terdidik atau bukan. Rasulullah SAW bersabda: �Berbicalah kepada manusia sesuai dengan kadar intelektualitas mereka�.

3. Menghindari pengulangan pembicaan yang bisa menimbulkan kejenuhan. Sahabat Nabi, Abdullah bin Mas�ud biasa memberikan taushiyah atau nasehat setiap hari kamis, sehingga sahabat yang lain pernah berkata padanya: �Hai Abu Abdurrahman, seandainya saja engkau bisa memberi nasehat setiap hari, niscaya kami akan senang�. Namun Ibnu Mas�ud malah menjawab, kami hanya memberikan nasehat sekali-sekali saja, karena Rasulullah juga hanya sekali-sekali saja memberi nasehat. Pada saat kami berada di dalam majelis.

4. Kata-kata yang digunakan hendaknya hanya kata-kata yang baik dan bernilai ibadah: Hindarilah kata-kata yang bersifat laghwi (sia-sia / tidak bermanfaat). Dalam hadits disebutkan oleh Rasulullah SAW: �Min husnil Islamil ma�i tarku ma laa ya� nihi�.(HR. Tirmidzi). Termasuk di dalam kebaikan keislaman seseorang, maka ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna, termasuk kata-kata laghwi. Yang termasuk kategori kata-kata baik adalah salam, tegur sapa, nasehat, kata-kata yang memberi semangat, menghibur dan menghindari kata-kata laghwi (QS 23:3) sebagai ciri-ciri orang yang beriman.

Di dalam majelis selain ada yang berbicara tentu saja harus ada yang menjadi pendengar, karena itu selain adaabul hadits dibutuhkan pula adaabul istima�.
Dalam tubuh manusia boleh dibilang telingalah organ yang paling awal berfungsi dan kelak organ ini pula yang paling terakhir berhenti berfungsi.
Sahabat Nabi SAW, Abu Darda r.a pernah mengeluarkan kata-kata bijak: �Hendaknya kita belajar dari organ-organ tubuh yang diberikan Allah kepada kita. Mengapa Ia memberi kita dua telinga dan satu mulut, itu artinya kita harus lebih banyak mendengar ketimbang berbicara�.

Dan memang ternyata jauh lebih sulit menjadi pendengar yang baik daripada pembicara yang baik. Bahkan kadang-kadang kita menemui bahwa dalam satu majelis, ada orang-orang yang berbicara pada saat yang bersamaan dan tidak mau saling mendengar satu sama lain.

Karena itu penting bagi kita belajar mendengar. Ada saat-saat berbicara, tetapi ada juga saat-saat mendengar, sehingga penting bagi kita untuk mengetahui apa-apa saja yang termasuk adab mendengar dalam perspektif Islam:

1. Diam dan mendengarkan dengan baik dan seksama, maksudnya kita harus tahu kapan saat berbicara dan kapan saat diam dan mendengarkan. Bila sedang terjadi pembicaraan hendaknya kita berlaku santun, mendengarkan dan menyimak dengan baik dan seksama. Hendaknya kita tidak mengobrol dengan sesama pendengar lainnya.

2. Tidak boleh memotong pembicaraan. Bila memang penting bagi kita karena ada hal yang penting yang harus diinformasikan atau dikoreksi, hendaknya kita meminta izin dengan mengacungkan jari lebih dulu dan meminta maaf, bila tidak diizinkan hendaknya kita catat untuk kita tanyakan atau sampaikan setelah pembicara menyelesaikan uraiannya.

3. Menerima dan menghargai pembicaraan orang lain serta tidak meninggalkannya di saat selama isinya dalam rangka ketaatan pada Allah SWT, walaupun ada yang membosankan.

4. Tidak menepiskan pembicaraan orang lain walaupun kita sudah mengetahuinya selama tidak ada yang salah dalam kata-kata tsb. Atha�bin Rabah pernah diberitahu informasi oleh seseorang sementara hal itu sebenarnya sudah diketahui oleh Atha� sejak sebelum orang itu lahir. Namun Atha� tetap mendengarkan dengan penuh perhatian.

5. Tidak menunjukkan pada hadirin bahwa kita yang paling atau lebih banyak tahu. Sehingga misalnya sering berceletuk, berkomentar yang mengganggu, kecuali bila memang ditanya atau dirasakan sangat perlu
. Wallahu�alam.

Wahai Muslimah Ikutilah petunjuk Nabimu



Wahai Muslimah Ikutilah petunjuk Nabimu
#Oleh: Abu Samah Al-Hafidz

Saudariku..., semoga Allah membimbingmu, kita semua pasti menginginkan keselamatan dan kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Kita semua sangat ingin mendapatkan rahmat (kasih sayang) Allah, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Karena kita sangat mengharapkan hal itu, maka kita harus menempuh jalannya, yaitu melaksanakan rukun islam yang lima: bersaksi bahwa tiadak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad Shallallahu�alaihi wasallam adalah rasul-Nya, mendirikan shalat yang lima waktu dan menjaganya dengan baik, mengeluarkan zakat, berpuasa bulan Ramadhandan haji jika mampu. Kelima hal tersebut adalah kunci untuk meraih surga Allah yang kekal abadi dan selamat dari neraka-Nya.
            Kemudian ada kewajiban bagi seorang muslimah yang perintah ini datangnya dari Allah Subhanahu Wata�ala dan Rasul-Nya, yakni menutup aurat (berjilbab) ketia ia akan keluar rumah. Allah Subhanallahu wata�ala berfirman: �Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: �hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, kareana itu mereka tidak diganggu�  (QS. Al-Ahzab 33:59)
            Saudariku... apa yang menghalangimu untuk berjilbab???
            Sebagian muslimah berkata, �aku belom merasa siap untuk berjilbab karena imanku masih lemah�. Kita hendak bertanya, �kalau begitu kapan siapnya???  Apakah engkau bisa menjamin bahwa engkau masih akan hidup tahun depan??? Bagaimana seandainya ajal datang sebelum engkau merasa siap untuk berjilbab??? Apakah engkau tidak takut akan azab-Nya??? Ketauhilah saudariku, alasan seperti itu adalah bisikan syetan yang dibisikkan kedalam benakmu untuk menghalangimu dari menta�ati Allah�.
Sebagian lagi berkata, �Bukankah yang penting itu hati ??? kalau hati kita bersih saya pikir tak mengapa saya tidak berjilbab.� Jawabannya: Keimanan itu bukan hanya di hati saja, tapi iman itu adalah keyakinan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan di amalkan dengan anggota badan.
            Sebagian bertaka, �saya merasa malu untuk berjilbab karena sebagian besar teman-teman saya tidak berjilbab, kalau saya pake jilbab saya merasa terasing.� Jawabannya, �Islam mengajarkan agar seorang wanita merasa malu jika terlihat auratnya, bukan malah malu jika menutup auratnya. Suatu yang buruk tidak akan menjadi baik meskipun sebagian besar orang melakukannya. Allah Subhanallahu Wata�ala berfirman: �Katakanlah: �tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang bukruk itu mengagumkanmu, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal agar kamu mendapatkan keberuntungan.� (QS. Al-Ma�idah 5:100).
Adapun hadits terasing, maka bersabrlah denga keadaan seperti itu karena Nabi Shallallahu�alaihi wasallam bersabda, �Islam ini bermula dalam keadaan terasing, dan akan kembali menjadi terasing, maka berbahagialah orang-orang yang terasing.� (HR. Ahmad dan Muslim)
            Itu lebih baik daripada engkau mengikuti Trend yang menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya sehingga mencegahmu dari surga-Nya. Nabi Shallallahu�alaihi Wasallam Bersabda, � Ada dua golongan dari penghuni Neraka yang aku belom pernah melihatnya; (salah satunya adalah) wanita-wanita yang berpakain namun seperti telanjang, mereka menyimpang dan membuat orang lain menyimpang, kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga itu dapat tercium dari perjalanan sekian dan sekian.� (HR. Muslim).
            Sebagian berkata, �Jika aku berjilbab aku takut tidak di terima jika melamar pekerjaan.� Jawabannya, semua pembendaharaan langit dan bumi ada di tangan Allah, dialah yang maha pemberi rizqi dan dia berjanji, �Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizqi dari arah yang tidak disangka-sangkanya. (QS. At-Talaq 65:2). Maka hendaklahengkau bersangka baik kepada Allah.
Wallahu�alam.
�Semoga Allah meneguhkan hatimu untuk melaksanakan perintah-Nya dan membimbimngmu kejalan yang diridhai-Nya.� Aamiin.