Minggu, 16 Februari 2014

Keutamaan Berbakti Kepada Orang Tua


Keutamaan Berbakti Kepada Orang Tua
Bismillaahirrahmaanirrahiimi
Assalamualaikum Warahmatullai Wabarkaatuh
#Oleh: Abu Samah Al-Hafidz

 Diantara keutama-keutamaan berbakti kepada orang tua:
Pertama: Lebih mulia daripada jihad
Beberapa riwayat hadist menjelaskan bahwa pertanyaan pertama bagi seorang pemuda yang hendak berjihad ialah menanyakan apakah kedua orang tuanya masih hidup, apakah kedua orang tuanya mengizinkannya untuk pergi berjihad, apakah orang tuanya begitu membutuhkan anaknya tersebut untuk dapat membantu mereka.

�Abdullah bin �Amr bin Ash r.a. berkata bahwa ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi saw. Dia meminta izin untuk ikut berperang. Maka Rasulullah saw bertanya kepadanya, �Apakah kedua orangtuamu masih hidup ?� Dia menjawab, �Ya.� Rasulullah saw bersabda, �Berjuanglah untuk kepentingan mereka.� (HR Bukhari Muslim)

Hadist di atas juga menjadi catatan bagi fenomena gerakan terorisme, yang mengaku mengatasnamakan jihad untuk melakukan apa saja, apakah oknum mereka merekut para pengantin (pelaku bom bunuh diri) atau tindakan terror lainnya telah meminta izin dari orang tua mereka?, apakah mereka tidak sadar bahwa ternyata berbakti kepada orang tua pada usia muda ialah suatu keutamaan agama ? Mengapa mereka justru mendahulukan suatu hal yang justru menyakiti hati para orang tua mereka dengan melakukan tindakan terror ? � dan mungkin masih banyak lagi pertanyaan yang seharusnya menyadarkan kita bahwa terorisme bukanlah bagian dari ajaran agama Islam.

Kedua: Orang Tua ialah pintu surga
Ternyata cara masuk surga tidak perlu jauh-jauh, ada pintu yang mudah dan istimewa yaitu berbakti kepada orang tua.

�ORANG TUA adalah PINTU SURGA YANG PALING TENGAH, terserah kamu, hendak kamu terlantarkan ia, atau kamu hendak menjaganya�(Hadist riwayat Tirmidzi)

Maksud pintu surga yang paling tengah adalah pintu yang PALING BAGUS dan PALING TINGGI.Dengan kata lain, sebaik-baik sarana yang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga dan meraih derajat yang tinggi adalah dengan mentaati orangtua dan menjaganya.�

Selain itu ada pula hadist yang menyatakan kerugian dan celaka bagi orang yang tidak berbaki kepada orang tua :

Nabi shallallahu �alaihi wasallam bersabda, �Sungguh celaka� sungguh celaka� sungguh celaka..�, lalu dikatakan, �Siapakah itu wahai Rasulullah?� Beliau bersabda, �Yakni orang yang mendapatkan salah satu
orangtuanya, atau kedua orangtuanya berusia lanjut, namun ia tidak masuk surga.� (HR Muslim). Wallahu�alam.
�Semoga Kita Termasuk Orang Yang Berbakti Kepada Orang Tua Kita� Aamiin.

Keutamaan Anak Yang Sholeh

Keutamaan Anak Yang Sholeh
Bismillaahirrahmaanirrahiimi
Assalamualaikum Warahmatullai Wabarkaatuh
#Oleh: Abu Samah Al-Hafidz

     Dari Abu Hurairah  bahwa Nabi  bersabda: �Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya: Bagaimana (aku bisa mencapai) semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu�(HR Ibnu Majah (no. 3660), Ahmad (2/509) dan lain-lain, dishahihkan oleh al-Buushiri dan dihasankan oleh syaikh al-Albani dalam �Silsilatul ahaaditsish shahiihah� (no. 1598)).
     Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan memiliki anak yang shaleh serta keutamaan menikah untuk tujuan mendapatkan keturunan yang shaleh. Imam al-Munawi berkata: �Seandainya tidak ada keutamaan menikah kecuali hadits ini saja maka cukuplah (menunjukkan besarnya keutamaannya)�( Kitab �Faidhul Qadiir� (2/339).
     Faidah-faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
Pertama: Keutamaan dalam hadits ini berlaku bagi hamba Allah yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan. (Ibid).
Kedua: Anak yang shaleh termasuk sebaik-sebaik usaha yang dilakukan oleh seorang mukmin dalam hidupnya, karena semua amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shaleh pahalanya akan sampai kepada orang tuanya, secara otomatis dan tanpa perlu diniatkan, karena anak termasuk bagian dari usaha orang tuanya. Inilah makna sabda Rasulullah : �Jika seorang manusia mati maka terputuslah (pahala) amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah yang terus mengalir (pahalanya karena diwakafkan), ilmu yang terus diambil manfaatnya (diamalkan sepeninggalnya), dan anak shaleh yang selalu mendoakannya�( HSR Muslim (no. 1631).
Ketiga: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani � semoga Allah  merahmatinya � berkata: �(Semua pahala) amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shaleh, juga akan diperuntukkan kepada kedua orang tuanya, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala anak tersebut, karena anak adalah bagian dari usaha dan upaya kedua orang tuanya. Allah U berfirman:
�Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya� (QS an-Najm:39).
     Rasulullah  bersabda: �Sungguh sebaik-baik (rezki) yang dimakan oleh seorang manusia adalah dari usahanya sendiri, dan sungguh anaknya termasuk (bagian) dari usahanya�( HR Abu Dawud (no. 3528), an-Nasa�i (no. 4451), at-Tirmidzi (2/287) dan Ibnu Majah (no. 2137), dihasankan oleh imam at-Tirmidzi dan dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani).

     Kandungan ayat dan hadits di atas juga disebutkan dalam hadits-hadist (lain) yang secara khusus menunjukkan sampainya manfaat (pahala) amal kebaikan (yang dilakukan) oleh anak yang shaleh kepada orang tuanya, seperti sedekah, puasa, memerdekakan budak dan yang semisalnya�� (Ahakaamul janaaiz� (hal. 216-217).
Keempat: Sebagian dari para ulama ada yang menerangkan makna hadits ini yaitu: bahwa seorang anak jika dia menempati kedudukan yang lebih tinggi dari pada ayahnya di surga (nanti), maka dia akan meminta (berdoa) kepada Allah  agar kedudukan ayahnya ditinggikan (seperti kedudukannya), sehingga Allah pun meninggikan (kedudukan) ayahnya. Ini berdasarkan keumuman makna firman Allah:
 �(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu� (QS an-Nisaa�:11) (Fadhul Qadiir, 216-217).
Kelima: Hadits ini juga menunjukkan bahwa istigfar(permohonan ampun kepada Allah) dapat menggugurkan dosa-dosa dan meninggikan derajat seorang hamba sampai pada tingkatan yang tidak dicapai dengan amal perbuatannya yang lain, terlebih lagi jika hamba tersebut banyak beramal shaleh dan melakukan istigfar.(Ibid). Wallahu�alam.
�Semoga Tulisan Ini Bermanfaat Bagi Kita Semua� Aamiin.

Sabtu, 15 Februari 2014

Menuju Jalan Yang Lurus

Menuju Jalan Yang Lurus
Bismillaahirrahmaanirrahiimi
Assalamualaikum Warahmatullai Wabarkaatuh
#Oleh: Abu Samah Al-Hafidz



Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan  kesalahanmu.. (QS. At Tahrim : 8 ).
Saat masuk usia baligh, setiap manusia mulai mengalami fase taklif, memikul beban tugas dari Allah SWT, mengabdi dan beribadah kepadaNya. Setiap kata dan perbuatan mulai dicatat oleh para malaikat, baik maupun buruk. Tak ada satu pun yang luput dari pengawasan Allah dan para malaikatNya.
Dan pada saat itu ada jiwa-jiwa yang berseri-seri karena mendapatkan ampunan Allah dan ditempatkan dalam kehidupan yang memuaskan di surga Allah. Dan ada pula jiwa-jiwa yang merana, bermuka muram nan hitam karena tahu tempatnya adalah neraka, tempat paling buruk yang diciptakan Allah SWT.
Menuju Ampunan Allah
Semua fasilitas hidup di muka bumi ini, Allah ciptakan untuk manusia. Tetapi acap kali manusia mengingkari karunia Allah SWT, tidak bersyukur dan bahkan yang ada adalah penentangan dan kekufuran kepada Allah SWT, tidak mau patuh pada aturanNya, tidak mau taat pada utusan Allah, dan sebagainya. Kita berlindung kepada Allah semoga tidak menjadi hamba yang ingkar.
Tentu ada kesalah dan juga dosa yang pernah kita perbuat, karena memang kita tidak terpeliara dari dosa dan maksiat. Namun kita juga tidak patut berpandangan bahwa hal yang wajar kalau kita terus menerus berbuat dosa, sementara Allah SWT menyeru kita untuk bertaubat dan memperbaiki kesalahan kita. Dia membuka pintu maaf bagi siapa saja yang kembali kepada jalanNya yang lurus.
Seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits shahih, bahwa Allah SWT membuka pintu ampunanNya di siang hari untuk mengampuni mereka yang berdosa di malam hari, Dia juga membuka pintu ampunanNya di malam hari bagi mereka yang berdosa di siang hari. Dan itu berlangsung sampai matahari terbit dari barat. (HR. Muslim)
Allah SWT berfirman dalam Al Quran,
Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.�(QS. Ali Imran : 133)

Bertaubat kepada Allah
Para ulama menjelaskan bahwa taubat hukumnya wajib dari semua dosa yang pernah dilakukan, baik dosa kecil maupun dosa besar. Jika dosa itu terkati dengan Allah SWT ada tiga hal yang harus dilakukan, yaitu:
Pertama: Meninggalkan perbuatan dosa yang diperbuat.
Kedua: Menyesal telah melakukan dosa.
Ketiga: Berjanji tidak akan mengulanginya kembali.
Dan jika dosa yang diperbuat terkait dengan manusia, ada satu hal lagi yang harus dilakukan, yakni meminta maaf secara langsung kepadanya.
Sebesar apapun dosa yang dilakukan jika kita sadar dan memohon ampunan Allah serta jujur kepadaNya maka Allah adalah Dzat yang Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat. Allah SWT berfirman,
Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.� (QS. An Nuur : 31)
Memperbanyak Istighfar
Memperbanyak kalimat �Astaghfirulllah� yang berarti permohonan ampunn kepada Allah dan merupakan ungkapan yang penuh dengan kesadaran yang bersumber dari hati yang tulus. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT,
Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertobat kepadaNya.� (QS. Hud : 3)
Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk selalu memohon ampunan dari Allah, seperti yang diungkapkan Rasulullah saw dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.,
Demi Allah, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.� (HR. Bukhari)
Dalam hadits lain, Aghar ibn Yasar al Muzani meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,
Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah ampunanNya. Sungguh, aku bertaubat kepada Allah seratus kali dalam sehari.� (HR. Muslim)

Memperbanyak Kebaikan
Pilihan amal kebaikan begitu banyak dan beragam, setiap kita pasti bisa melakukannya. Amalan baik seperti yang diinformasikan Rasulullah saw dapat menghapus amalan buruk. Sabda Rasullah saw,
Dan ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baikmu, niscaya perbuatan baik itu menghapus perbuatan buruk.� (HR. Tirmidzi)
Puncak perbuatan baik adalah berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Pintu kebaikan lainnya adalah menunaikan amalan wajib dengan istiqomah seperti shalat berjama�ah di masjid, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan Haji ke Baitullah.
Kemudian diikuti dengan amalan sunnah, seperti shadaqah, puasa sunnah, menuntut ilmu, membantu orang lain dalam kebaikan, membaca Al Quran dengan mentadabburi maknanya, serta ibadah sunnah lainnya.
Yang tidak kalah pentingnya adalah berakhlaq baik dalam pergaulan, dengan istri dan anak-anak, berbakti kepada kedua orang tua, menghormati tetangga, memulaikan tamu, senyum ketika bertemu dengan saudara. Semua ini termasuk penghapus keburukan yang pernah kita lakukan.

Jujur dan Menjauhi Dusta
Kisah diterima taubatnya tiga orang sahabat Rasulullah saw yang tidak ikut serta dalam perang Tabuk tanpa ada alasan yang dapat diterima adalah karena kejujuran dan menjauhi kedustaan. Ketika Rasulullah saw kembali dari peperangan, semua orang munafik berdusta mencari alasan agar dimaafkan oleh Rasulullah saw. Sedangkan ketiga orang sahabat beliau berkata jujur dan tidak berdusta sehingga kemudian Allah SWT menerima taubat ketiganya.
Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.(QS. At Taubah : 118)
Dalam taubat dibutuhkan sikap jujur yang timbul dari hati lalu kemudian bersegera menuju Allah dan meninggalkan masa lalu yang kelam.
Taubat Nasuha
Bertaubat adalah memulai hidup baru dan meninggakan masa lalu yang kotor, penuh dengan dosa, jangan membiarkan ikatan dengan dosa, dan jangan kembali mendekatinya. Menatap masa depan yang bersih dari perbuatan maksiat dan mengendalikan hawa nafsu agar selaras dengan apa yang dikehendaki Allah SWT dan RasulNya. Allah SWT berfirman,
Dan(juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.� (QS. Ali Imran : 135)
Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,�(QS. At Tahrim : 8 )
Supaya tercapai taubat nasuha, maka di antara sarananya adalah menambah ilmu yang dapat mengokohkan iman, melembutkan hati dan menajamkan akal. Semua itu dapat diraih dengan lebih aktif mempelajari Al Quran sebagi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa dan mempelajari hadits Rasulullah saw sebagai bentuk aplikatif dari ajaran Islam.
Penutup
Kembali kepada Allah melalui taubat adalah kembali kepada Dzat yang Maha Suci, Dzat yang mencintai kesucian dan keindahan. Sebagai balasan atas kembali kepada kesucian ini telah disediakan di akhirat kelak tempat yang memuaskan, yaitu surga Allah yang penuh dengan kenikmatan, yang luasnya seluas langit dan bumi.
Rasulullah saw mengajarkan do�a memohon ampunan Allah SWT dalam hadits beliau,
Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya.� (HR. Bukhari dan Muslim). Wallahu�alam.
�Semoga Tulisan Ini Bermanfaat Bagi kita Semua� Aamiin.

Santun dan murah hati



Santun dan murah hati
Bismillaahirrahmaanirrahiimi
Assalamualaikum Warahmatullai Wabarkaatuh
#Oleh: Abu Samah Al-Hafidz

Gemar Memberi Mengundang Nikmat
Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk berempati kepada orang yang sedang berduka dan berbagi ketika mendapatkan kebahagiaan. berbagi yang tertinggi derajatnya adalah itsar, yaitu memberikan sesuatu kepada orang yang lebih memerlukan, sekalipun ia sendiri masih membutuhkannya. Itulah yang dilakukan kaum Anshar (penduduk asli Madinah) kepada kaum Muhajirin (pendatang dari Makkah) sebagaimana pernah disebutkan dalam tulisan sebelumnya tentang seorang Sahabat yang menerima seorang tamu untuk bermalam di rumahnya. Sahabat itu sendiri tidak memiliki sesuatu untuk disuguhkan kecuali makan malam yang pas-pasan untuk keluarganya. Betapa mulianya sikap Sahabat itu sampai-sampai Allah Ta�ala mengabadikan dalam al-Qur`an. Sayangnya saat ini jarang sekali kita menemukan sikap seperti itu.
Lalu bagaimanakah hakikat berbagi dan apa saja yang menghalangi seseorang untuk berbagi?

Hakekat Berbagi
           Berbagi merupakan sedekah. Berbagi antar sesama atas apa yang kita miliki secara sah dan halalmerupakan sifat mulia. Kita dianjurkan untuk berbuat baik kepada sesama manusia sebagaimanafirmanAllahTa�ala:
Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik padamu. (Al-Qashas [28]: 77)
Banyak terminologi dalam Islam yang menjelaskan makna berbagi. Misalnya, amal perbuatan baik disebut dengan sedekah. Pemberian yang diwajibkan terhadap umat Islam untuk memuliakan dan mensucikan seseorang disebut zakat atau sedekah.
Berbagi adalah memperoleh. Berbagi yang disertai keikhlasan untuk membantu saudara yang memerlukan dan demi mencari keridhaan Allah Ta�ala akan mendapat pahala berlipat ganda. Firman-Nya, 

�Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah adalah sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir dan setiap butir membuahkan lagi 100 biji. Allah melipat gandakan (pahala) bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Allah maha luas karunia-Nya dan lagi maha mengetahui. (Al-Baqarah [2]: 261)

              Terlebih di bulan Ramadhan ini, kita selayaknya meningkatkan semangat berbagi sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah SAW. Kedermawanan beliau ketika memasuki bulan Ramadhan diibaratkan melebihi hembusan angin yang membawa kesejukan dan kehidupan bagi alam. Berbagi bukan hanya dengan materi, tapi juga dengan rasa. Bila kamu sedang berbahagia maka berbagilah agar kebahagiaan itu terasa semakin besar. Sebaliknya, bila Anda dilanda kesedihan atau kedukaan juga berbagilah agar terasa lebih ringan.  Berbagi dalam kebahagiaan tidaklah sesulit untuk membagi kesedihan. Sebab, dalam kebahagiaan kita mudah untuk menemukan seseorang untuk berbagi. Tapi ketika bersedih, kita merasa enggan untuk mengungkapkan kesedihan. Karena diri kita akan terlihat cengeng. Dan, untuk mencari seseorang yang bersedia mendengar keluh-kesah tidaklah mudah. Maka sungguh berbahagialah bila dalam kehidupan ini kita mampu dan bersedia berbagi suka dan duka bersama orang-orang baik yang menjadi sahabat sejati.

 Penyakit Berbagi
               Adapun berbagi yang lebih utama hakekatnya adalah untuk memberikan maslahat diri dan oranglain. Karenanya perlu dihindari sifat-sifat yang mengiringinya sebagai berikut:

Pertama: Berbagi sambil menyakiti hati penerimanya. Firman Allah Ta�ala:
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Al-Baqarah [2]: 264)

Kedua: Menuruti sifat setan yang kikir dan mengajak untuk berlaku kikir. Firman Allah Ta�ala: Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya), Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]: 268)

Ketiga: Berbagi karena riya atau cari popularitas. Firman Allah Ta�ala:
Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy-syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy-syirkul ashghar? Beliau menjawab: ar-riya�.� (Riwayat Ahmad)

Keempat: Berbagi karena keuntungan duniawi semata. Firman Allah Ta�ala:
Barangsiapa yang menghendaki kenikmatan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan�. (Huud [11]: 15-16).
Dan janganlah kamu berbuat karena menginginkan imbalan yang lebih banyak. (Al-Muddatstsir [73]:6)

Pelihara Sifat Berbagi
Untuk menumbuhkan sifat berbagi, hendaknya setiap orang memelihara sifat-sifat berikut:

1.   Dermawan harus selalu dekat dengan Allah Azza Wa Jalla.
         Sehingga ia akan memperoleh keberkahan hidup, kepuasan batin, dan ketenangan jiwa. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bertanya kepada para Sahabatnya:
Apakah engkau menginginkan kepuasan dan kesuksesan batin serta terpenuhi kebutuhan hidup? Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berikanlah makanan yang sama dengan makanan yang engkau makan. Pasti engkau akan mendapatkan kesuksesan batin dan akan terpenuhi kebutuhan hidup. (Riwayat Thabrani dari Abu Darda)

2. Menjaga niat semata-mata karena Allah Ta�ala. Firman Allah Ta�ala:
         Mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al-Bayyinah [98]: 5)

3. Tetap sopan serta lemah-lembut. Nabi SAW bersabda kepada �Aisyah:
          Wahai �Aisyah, sesungguhnya Allah Subhaanahu wa ta�ala bersifat lemah-lembut, dan menyukai kelemahlembutan. (Muttafaqun Alaih). 
           Di lain waktu beliau berkata kepada seorang Sahabatnya, �Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang dicintai Allah. Santun dan murah hati.� (Riwayat Muslim). Wallahu�alam.

�Semoga Tulisan Ini Bermanfaat Bagi Kita Semua� Aamiin.